Buku Trilogy of Inspirations Hermanto Tanoko Richer Mindset

Telah tersedia di Bukukita.com buku yang banyak dicari tentang Rahasia Kesuksesan dari orang terkaya ke 10 di Indonesia:Buku Trilogy of Inspirations Hermanto Tanoko Richer Mindsetyang menceritakan tentang kisah hidup Hermanto Tanoko hingga berada di titik saat ini.SETIAP PEMBELIAN INCLUDE 3 BUKU (1 PAKET) Semua Buku Hardcover dikemas dalam Boxset[Buku 1] Menceritakan tentang memori masa kecil ketika pertama kali mengenal dunia bisnis[Buku 2] Berisi tentang transformasi Hermanto Tanoko yang membawa nihai-nilai mulia yang ditanamkan oleh orang tua dari kecil pinga beranjak dewasa[Buku 3] Menceritakan sepak terjang Hermanto Tanoko dałam menggeluti dunia bisnis dengan berbagai macam lini bisnis yang telah dijalankanSemua Buku dengan sampul Hardcover dikemas dalam Boxset dengan cetakan premium full color dan cover dengan embose tinta emas (Sangat Eksklusif dan Premiun).Buku ini menceritakan keluarga, kisah hidup, prinsip hidup dari kecil, remaja hingga dewasa dengan masing-masing buku terpisah yang disusun dengan sangat bagus untuk dapat mudah dipahami dengan gambar ilustrasi menarik (full color). Setiap bab dan sesi yang diceritakan dengan baik beserta halaman quisioner yang bisa kita isi sebagai pembaca untuk introspeksi dan lebih memahami inti dari setiap bab.Terdapat banyak poin penting pada setiap bagian buku yang memberikan cara dan rahasia menjadi sukses yang belum pernah diceritakan sebelumnya.Dengan membaca buku ini, anda akan dibawa dalam pola pikir yang tersusun rapi bagaimana membentuk pola pikir serta kebiasaan yang dijalankan sejak kecil, remaja hingga menjadi pengusaha terkaya di Indonesia.Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh siapa saja mulai dari anak-anak, remaja, teman, saudara dan tentunya anda sendiri yang ingin menjadi orang sukses seperti pak Hermanto Tanoko. Buku ini merupakan intisari dan rahasia yang dikumpulkan selama puluhan tahun hingga kesuksesan pak Hermanto Tanoko saat ini.Nilai buku ini sangat murah dibandingkan dengan ilmu, pelajaran dan rahasia yang dibagiakan didalam buku ini.Setiap buku dicetak dengan kertas premium full color dengan sampul Hardcover dengan judul embossed tinta emas, sangat berkelas sesuai dengan isi buku dan sangat layak menjadi buku acuan untuk dipelajari dan dikoleksi.Dengan harga ini (3 buku hardcover dikemas lagi dalam Boxset) sangat murah dibandingkan dengan kualitas dan ilmu yang didapatkan, dibandingkan ikut seminar mahal atau menonton konser dengan harga jutaan, maka buku wajib anda miliki sebagai pembelajaran untuk mencapai kesuksesan anda.Silahkan langsung order sekarang sebelum kehabisan, ekslusif di Bukukita.com, stok sangat terbatas!!

Lopa Yang Tak Terlupa [Free buku Berani Korupsi itu Memalukan]

Indonesia tidak seharusnya melupakan Baharuddin Lopa. Ia adalah seorang pendekar hukum yang tak pernah lupa. Lopa tak pernah alpa pada tanggung jawabnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus menjalankan perintah-Nya untuk menebarkan kebaikan sesuai dengan peran yang diemban. Maka, Lopa tak pernah lupa bahwa ia adalah penegak hukum yang memiliki tanggung jawab penuh menegakkan keadilan di muka bumi ini. Bila sudah menyinggung tentang hukum dan keadilan, jangan berharap datang kompromi darinya. Sekali lagi, karena Lopa tak pernah lupa pada tanggung jawabnya.Namun bangsa ini, kini, gampang lupa. Penyimpangan-penyimpangan kembali bertumbuhan seiring kepergian Lopa. Maka, untuk mewujudkan cita-cita negeri yang damai dan adil, marilah Indonesia, jangan kita melupakan keteladanan yang ditabur oleh Baharuddin Lopa.Endorsement:Berintegritas, pintar, dan berani.- K.H. Abdurrahman Wahid,, Presiden ke-4 Republik IndonesiaPak Lopa sebagai Guru Besar Tidak Tetap Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mendapat Anugerah UII (UII Award) yang pertama, karena dinilai memiliki integritas dan menjadi teladan dalam penegakan hukum di Indonesia.- Artidjo Alkostar, Dosen Fakultas Hukum UII Yogyakarta, Hakim Agung (2000-2018),Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI (2007-20018)Ibarat tinju, kita terkena hook di dagu. Pukulan ini biasanya membuat KO. Itulah rasanya yang menimpa kita ditinggalkan Baharuddin Lopa. Dia pergi pada saat kita membutuhkannya, pada saat dirinya mendapatkan kesempatan untuk memulai perjuangan besar, dambaan hidupnya: menegakkan hukum. Mungkin Lopa sendiri pergi dengan pedih, bukan karena mendadak dipanggil Tuhan, melainkan karena kecemasan akan berlanjutnya kesemrawutan hukum di tengah bangsanya. Lopa memang bukan satu-satunya harapan. Tetapi, rasanya, dia adalah ujung tombak. Ketika ujung tombak ini patah, masihkah ada harapan untuk menegakkan hukum yang sudah begini parah?- Rakyat Merdeka, 5 Juli 2001

Raden Dewi Sartika

Tak ada tanda-tanda istimewa saat Raden Ayu Rajapermas - istri Raden Rangga Somanagara seorang Patih Kadipaten Bandung melahirkan putri keduanya Raden Dewi Sartika  selain kebahagiaan. Tetapi kemudian Dewi Sartika - sang aktivis dan pelopor pendidikan dari Pasundan  itu melewati waktu dengan kehebohan demi kehebohan. Pernah mengalami insiden patah tulang saat bermain yang menyebabkan ia menjadi kidal, menolak pinangan dua laki-laki bangsawan sebelum memilih seorang duda dari kalangan lebih rendah sebagai sikap menolak perjodohan dan poligami. Pada usia sepuluh tahun menghebohkan karena telah berhasil 'menyulap' anak-anak para pembantu di kepatihan bisa baca tulis dan mengucapkan beberapa patah kata bahasa Belanda. Kehebohan kemudian berlanjut ketika ia berhasil meluluhkan Bupati Bandung - R. Adipati Aria Martanegara yang tak lain adalah 'musuh' besar keluarganya sebagai buntut politik devide et impera Residen J.D. Harders - membantu meluluskan membangun sekolah istri. Ketika Sekolah Istri yang didirikannya menuai kecurigaan Pemerintah Kolonial Belanda, Dewi Sartika berhasil meyakinkan Inspektur Pengajaran Hindia Belanda C. De Hammer berbalik haluan mendukung kiprah putri pemberontak itu. Dukungan juga muncul dari tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto. Hambatan terbesar justru datang dari keluarga yang menganggap tabu seorang anak perempuan mengenyam pendidikan. Persinggungan dengan sahabat suaminya - Sosrokartono dan Kardinah yang tak lain adalah kakak dan adik R.A. Kartini membuktikan bagaimana gagasan untuk membuka kran pendidikan bagi perempuan yang selama ini dianggap tabu itu tidak hanya lokal Pasundan melainkan mendapat apresiasi secara nasional. Dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan di media cetak saat itu, Raden Dewi Sartika menulis: "Alangkah sedihnya mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, karena orang yang demikian ibarat hidup di dalam kegelapan atau umpama orang buta yang berjalan di tengah hari. Maka jika jadi perempuan harus bisa segala-gala." Gagasan itulah yang kemudian melahirkan Sekolah Kautamaan Istri dengan mengusung konsep cageur (sehat), bageur (baik) bener (benar), pinter (pintar), dan wanter (percaya diri). Dewi Sartika tak sekadar pencetus pendidikan kaum perempuan, tetapi seorang aktivis berintegritas yang mewakafkan kehidupannya untuk pendidikan. Tak heran bila menjelang wafatnya di pengungsian Desa Cineam hanya satu yang selalu dipikirkannya yaitu bagaimana kelangsungan sekolahnya, yang mengakibatkan penyakit gulanya kronis.Endorsement:"Yang harum akhirnya semerbak juga. Sebagai seorang aktivis, Dewi Sartika memiliki integritas kepribadian yang tinggi, naluri yang tajam terhadap strategi dan keseimbangan di dalam totalitas aksi-reaksi-kontemplasi. Sungguh sukar dicari tandingannya. Sekolahnya ia namakan Sakola Istri yang lalu berubah menjadi Sakola Kautamaan Istri, menunjukan bahwa ia memiliki naluri terhadap strategi dan keseimbangan. Jarang aktivis yang memiliki kelebihan sifat seperti itu, yang sempat saya saksikan punya kombinasi demikan hanyalah Soe Hok Gie dan Abdurrahman Wahid."- W.S. Rendra, sastrawan dan penyair

Kontroversi Al-Quran Thomas Jefferson

Pada 1765, sebelas tahun menjelang Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (AS), Thomas Jefferson membeli al-Quran. Rupanya, ini hanya menandai awal dari minatnya yang panjang terhadap Islam. Memang, setelah itu ia terus mencari sejumlah buku tentang bahasa, sejarah, dan perkembangan Timur Tengah. Jefferson pun intensif memahami Islam meskipun hal itu dinilai menghina keimanannya, sebuah sentimen umum yang berlaku di kalangan Protestan kala itu di Inggris dan Amerika. Syah dan, sejak 1776, Jefferson telah membayangkan kaum Muslim sebagai warga Negara masa depan bagi negeri barunya, AS.Buku ini mengungkapkan cerita penting yang sedikit diketahui ihwal riwayat kebebasan agama di AS; sebuah drama di mana Islam memainkan peran mengejutkan. Denise A. Spellberg menceritakan bagaimana para Pendiri Amerika SerikatJefferson termasuk yang terkemuka di antaranyatertarik pada ide-ide Pencerahan perihal toleransi Muslim untuk menciptakan landasan praktis pemerintahan Amerika yang tengah sengit diperdebatkan. Dalam hal ini, kaum Muslim, yang kala itu bahkan tak diketahui eksistensinya di koloni itu, menjadi batas imajinasi terjauh bagi pluralisme keagamaan Amerika, yang juga mencakup kaum Yahudi dan Katolik sebagai minoritas sebenarnya.Kini, selagi kecurigaan Barat terhadap Islam terus hidup dan jumlah warga Muslim di AS kian tumbuh menjadi jutaan, cerita Spellberg yang mengungkap gagasan revolusioner para Pendiri AS ini sangat penting diketahui. Di tengah menguatnya keyakinan ihwal benturan peradaban antara Islam dan Barat, buku ini menjadi bacaan yang tepat untuk merajut kembali harapan akan perdamaian dunia.TENTANG PENULISDENISE A. SPELLBERG (lahir pada 1958) adalah cendekiawan Amerika dalam bidang sejarah Islam. Profesor Sejarah dan Studi Timur Tengah di University of Texas, Austin, ini menyandang gelar BA dari Smith College (1980) dan gelar PhD dari Columbia University (1989).Minat kajiannya terfokus pada Islam dalam sejarah Amerika Serikat dan Eropa; juga sejarah Islam abad pertengahan, agama, dan gender. Di ruang kelas, ia mengajar mata kuliah tentang Sejarah Islam di Amerika Serikat; Islam di Eropa dan Amerika; Pengantar tentang Timur Tengah; serta Spanyol dan Afrika Utara Era IslamHistoriografi Islam.Selain buku ini, Spellberg juga menulis buku berjudul Politics, Gender, and the Islamic Past: The Legacy of Aisha Bint Abi Bakr, karya yang banyak dikutip yang menggambarkan sosok Aisyah dan kontribusinya dalam tradisi Islam. Selain menulis buku, dia pun rajin menulis artikel ilmiah, antara lain Islam in America: Adventures in Neo-Orientalism, Review of Middle East Studies, Vol. 4, No. 1 (Summer 2009); Could a Muslim Be President? An Eighteenth-Century Constitutional Debate, Eighteenth-Century Studies 39 (2006); dan Inventing Matamoras: Gender and the Forgotten Islamic Past in the United States of America, Frontiers: A Journal of Women Studies 25 (2004).Cendekiawan yang produktif menulis ini meraih banyak peng-hargaan. Dia menyabet penghargaan Carnegie Foundation Scholarship 2009-2010, setelah sebelumnya pada 2006 meraih Harry Ransom Teaching Award. Jauh sebelum itu, dia juga meraih Presidents Associates Undergraduate Teaching Excellence Award in History, 1996-1997.

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?