@koleksibukukita
Katalog buku untuk keluarga
Menumbuhkan Cinta Membaca dari Generasi ke Generasi.
Si Majenun dan Sayid Hamid
Sebuah buku tentang perkenalan & percakapan tentang karya besar Cervantes, Don Quixote"Inilah cerita paling sedih dari semua cerita dan lebih menyedihkan karena ia membuat kita tertawa."Begitulah penyair Inggris Lord Byron menulis tentang Don Quixote, karya Miguel Cervantes yang berumur lebih dari 400 tahun.Ada yang mencatat bahwa karya ini salah satu novel terlaris dalam sejarah: sampai dengan hari ini, sejak Don Quixote Buku ke-I terbit, di tahun 1605 sebelum di Indonesia VOC mendirikan Batavia buku itu sudah terjual 500 juta eksemplar. Setelah lebih dari 140 bahasa menerjemahkannya, bahasa Indonesia segera menyusul.Buku ini, Si Majenun dan Sayid Hamid, adalah sebuah perkenalan dan percakapan tentang karya besar Cervantesitu.Memang menakjubkan, buku fiksi yang kocak ini membangkitkan respons dari pengarang-pengarang ternama dan serius di pelbagai penjuru.
Resimen Pelopor Pasukan Elit Yang Terlupakan
Jauh di masa lalu ketika hiruk-pikuk mesin perang dan konfrontasi bersenjata masih meliputi air, udara, dan tanah Indonesia. Ketika Republik ini masih berusia seumur jagung, pada masa ketika pemerintah berjuang untuk mempertahankan keberadaan Republik yang masih belia ini dari serangan penjajah Belanda dan rongrongan para pemberontak dari tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia lahir sebuah pasikan khusus yang memiliki kemampuan dan keberanian menggetarkan. Sebuah pasukan yang dihormati oleh kawan dan disegani lawan.Reputasi yang didapat pasukan ini bukan berasal dari serangkaian pencitraan, bukan pula mitos yang digaungkan melalui berbagai media seperti layaknya mitos-mitos pasukan khusus yang kita dengar sekarang ini, melainkan melalui rangkaian perjuangan panjang yang menuntut keuletan, keterampilan, ketabahan, ketahanan, keberanian, dan upaya yang terkadang melampaui prajurit, mengingat bahwa mau tidak mau mereka harus selalu siap diturunkan di berbagai medan. Namun, yang membedakannya, atau yang membuat mereka layak diberi sandaran sebagai pasukan khusus, adalah hasil dan keefektifan mereka dalam menjalanan tugas.Pada masa kejayaannya, Resimen Pelopor, nama pasukan tersebut, merupakan sebuah "mesin perang" yang efektif dan efisien. Setidaknya, mereka merupakan gambaran ideal dari sebuah pasukan khusus: berani, berkemampuan tinggi, efektif, dan efisien dalam menjalankan tugas. Dimanapun mereka diturunkan, dimana pun mereka ditugaskan, para anggota pasukan ini seolah memiliki semboyan bahwa itu adalah penugasan terakhir mereka sehingga mereka memiliki semangat yang meluap-luap.Sayangnya, gelombang sejarah menenggelamkan kesatuan ini dalam palung terdalam. Ketika terjadi pergantian penguasa, keberlangsungan pasukan ini pun seolah mereka tidak pernah ada. Yang lebih ironis lagi, kisah kehebatan mereka nyaris tak ditulis dalam sejarah dan hanya menjadi cerita pengantar tidur anak-anak, cucu, dan saudara terdekat para mantan anggota pasukan tersebut.Inilah buku yang mengulas kisah para prajurit hebat yang terlupakan dan nyaris tanpa sejarah itu. Ditulis berdasar cerita, wawancara, dan sumber-sumber lainnya, buku ini berupaya merekonstruksi sejarah dan heroisme Resimen Pelopor, pasukan elit yang terlupakan.
Pesan Cinta Dari Turki
Ketika bumi mulai kehilangan batas-batas geografisnya,begitupula cinta yang tak kan terhalang oleh ruang danwaktu.Seandainya jarak bisa dilipat, aku akan melipatnya agardiriku senantiasa berada di dekatmu.Karena jarak yang membentang mengajarkan aku arti darisebuah kerinduan. Menyuruhku berdiri diatas kesetiaan. Dankarena itu pula dapat kutemukan mozaik kehidupan.Selama kita masih berada di bumi yang sama, maka jarak itukan menyempit seiring cinta yang selalu menyala. Selamakaki kita masih menginjak tanah yang sama, perbedaan itukian sirna.....Dengarlah... kau tnematig terlalu jault untuk kugapai.Namun aku selalu percaya, suatu saat tangan Tuhan sendiriyang akan menyatukan kita.... karena kita memang satu....