Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Perspektif Internasional (Konteks, Teori, dan Profil Pembelajaran)

Buku ini mengkaji lebih dalam bagaimana perkembangan civic education atau citizenship education atau pendidikan kewarganegaraan di berbagai negara. Untuk itu penulis mengorganisasikan pembahasan terpusat pada pertanyaan-pertanyaan: Bagaimana konteks lahirnya civic education atau citizenship education?; Apa yang menajdi landasan pegembangannya?; Bagaimana kerangka sistematiknya?; Bagaimana profil kurikulum dan bahan belajarnya?; dan Bagaimana kultur kelasnya? Sementara itu negara-negara yang menjadi situs nasional civic education atau citizenship education akan dikelompokkan kedalam: (1) Kawasan Eropa, Amerika, an Australia, dan (2) Kawasan Asia dan Afrika.Dari hasil kajian desriptif-analitik tentang civic education atau citizenship education pada semua kawasan tersebut, akan dikemukakan: Persamaan karakteristik civic education secara universal; Keunikan profil civic education pada masing-masing negara; Strategi umum pengembangan kurikulum dan pembelajaran civic education di berbagai negara; Analisis teoretik dan empirik berbagai konsepsi pengembangan kurikulum dan pembelajaran civic education yang diterapkan dalam konteks sistem pendidikan di berbagai negara; Keunggulan dan kelemahan setiap konsepsi pengembangan kurikulum dan pembelajaran civic education dalam konteks sistem pendidikan negara berkembang; dan Model adaptif kurikulum dan pembelajaran civic education untuk negara berkembang dalam perspektif kebutuhan pengembangan pendidikan kewarganegaraan.

Resimen Pelopor Pasukan Elit Yang Terlupakan

Jauh di masa lalu ketika hiruk-pikuk mesin perang dan konfrontasi bersenjata masih meliputi air, udara, dan tanah Indonesia. Ketika Republik ini masih berusia seumur jagung, pada masa ketika pemerintah berjuang untuk mempertahankan keberadaan Republik yang masih belia ini dari serangan penjajah Belanda dan rongrongan para pemberontak dari tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia lahir sebuah pasikan khusus yang memiliki kemampuan dan keberanian menggetarkan. Sebuah pasukan yang dihormati oleh kawan dan disegani lawan.Reputasi yang didapat pasukan ini bukan berasal dari serangkaian pencitraan, bukan pula mitos yang digaungkan melalui berbagai media seperti layaknya mitos-mitos pasukan khusus yang kita dengar sekarang ini, melainkan melalui rangkaian perjuangan panjang yang menuntut keuletan, keterampilan, ketabahan, ketahanan, keberanian, dan upaya yang terkadang melampaui prajurit, mengingat bahwa mau tidak mau mereka harus selalu siap diturunkan di berbagai medan. Namun, yang membedakannya, atau yang membuat mereka layak diberi sandaran sebagai pasukan khusus, adalah hasil dan keefektifan mereka dalam menjalanan tugas.Pada masa kejayaannya, Resimen Pelopor, nama pasukan tersebut, merupakan sebuah "mesin perang" yang efektif dan efisien. Setidaknya, mereka merupakan gambaran ideal dari sebuah pasukan khusus: berani, berkemampuan tinggi, efektif, dan efisien dalam menjalankan tugas. Dimanapun mereka diturunkan, dimana pun mereka ditugaskan, para anggota pasukan ini seolah memiliki semboyan bahwa itu adalah penugasan terakhir mereka sehingga mereka memiliki semangat yang meluap-luap.Sayangnya, gelombang sejarah menenggelamkan kesatuan ini dalam palung terdalam. Ketika terjadi pergantian penguasa, keberlangsungan pasukan ini pun seolah mereka tidak pernah ada. Yang lebih ironis lagi, kisah kehebatan mereka nyaris tak ditulis dalam sejarah dan hanya menjadi cerita pengantar tidur anak-anak, cucu, dan saudara terdekat para mantan anggota pasukan tersebut.Inilah buku yang mengulas kisah para prajurit hebat yang terlupakan dan nyaris tanpa sejarah itu. Ditulis berdasar cerita, wawancara, dan sumber-sumber lainnya, buku ini berupaya merekonstruksi sejarah dan heroisme Resimen Pelopor, pasukan elit yang terlupakan.

1 Jam Bersama Nabi

Mempelajari Hadis Nabi selalu menarik terlebih bila dikaitkan dengan kondisi masyarakat masa kini. Sesungguhnya, banyak problem masa kini bisa teratasi dengan mempelajari perilaku Nabi. Karena, segala perbuatan baik maupun buruk, yang terjadi di masa kini, telah terjadi pula di zaman Nabi hanya bentuknya saja yang berubah. Buku ini, yang ditulis dengan gaya bercerita, mengajak pembaca mengkaji hadis melalui wawancara imajiner dengan Nabi Saw. Dengan cara penulisan yang mengalir, kita seolah-olah diajak berdialog langsung dengan Nabi berkaitan dengan permasalahan yang kita hadapi sehari-hari.TENTANG PENULIS:TASIRUN SULAIMAN lahir di Tegal 15 November 1965. Menamatkan pendidikannya di Pondok Modern Gontor, juga sempat menjadi pengajar di almamaternya selama 4 tahun, sembari berkuliah di IPD (Institut Pendidikan Darussalam, saat itu) di Pondok Modern Gontor. Baginya menulis adalah sarana berbagi pengetahuan dan meluaskan wawasan yang mengasyikan. Karena itu, ia aktif membuat tulisan-tulisan ringan yang diunggah di statusnya, bahkan jumlahnya mencapai sekitar 300 judul. Ia telah menulis puluhan buku yang sudah diterbitkan seperti:  Humor Sufistik dan Hikmah (10 seri), Bukan Cinta Biasa, Kiai Sontoloyo; Robin Hood Bangkit Kembali, Menjadi Sufi Moderen (5 seri), Bersama Rasulullah di Surga (3 Seri), Hidup dalam Cinta, Wisdom Kekuasaan, Serial Agama Cinta (3 Seri), Book of Wisdom, Wisdom of Gontor, 30 Sajian Rohani Dr. Nurcholish Madjid, dan Tuhan Kesepian.Ia juga menulis serial buku anak, di antaranya berjudul:  Muslim Bed Story (3 seri) dan Cerita yang Membesarkan Jiwa Anak (5 Seri).KEUNGGULAN BUKU:-    Ditulis dengan gaya bercerita yang mengalir seolah-olah diajak berdialog langsung dengan Nabi Saw.-    Mengajak pembaca mengkaji hadis melalui wawancara imajiner dengan Nabi Saw. yang membahas masalah sehari-hari.

Iblis Menggugat Tuhan : The Madness of God

Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri. Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, "Ya Allah, anak keturunan Adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku, yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat menjadi hina dan buruk rupa." Lihatlah segala penderitaan dan kesengsaraan yang telah ditimpakan-Nya atas dunia ini. Lihatlah betapa Monster itu melakukan semuanya hanya untuk menghibur diri! Jika ada yang terlihat murni, dibuat-Nya ternoda! Jika ada yang manis, Dia buat masam! Jika ada yang bernilai, dibuat-Nya jadi sampah! Dia tak lebih dari sekadar Badut dan Pesulap Murahan, Pembohong Gila! Dan kegilaan-Nya masih terus membuatku lebih gila lagi! The Madness of God menjadikan ketergelinciran Iblis, dan dakwaannya kepada Tuhan karena telah "menyesatkannya", sebagai landasan bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai kemungkinan kehendak-bebas di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Pertanyaan yang berulang kali diajukan adalah: jika Tuhan Mahakuasa, dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk dapat disalahkan karena dosa-dosanya? Seiring dengan bergulirnya cerita, pembaca akan tenggelam dalam keyakinan tentang keesaan, kemahakuasaan, dan keadilan Tuhan. The Madness of God penting dibaca oleh para monoteis yang kritis. Shawni meramu adikaryanya ini dengan gayanya yang amat unik dan khas. Novel ini, terlepas dari judulnya yang provokatif, merupakan usaha Shawni dalam menyelaraskan keimanannya dengan akalnya.

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?