Abundant Life - Hidup Berkelimpahan

Abu ndant, menyajikan refleksi-refleksi singkat dengan kemasan bahasa yang lugas, sambil menggunakan varian bahasa "agak" sastra, tetapi tidak bermaksud untuk menyetarakannya dengan sebuah karya sastra yang "mashur", ala Metamorfosis-nya Franz Kafka, atau Matahari-nya Remi Silado. Refleksrrefleksi di dalamnya, merupakan segugus "Wahyu Batin" yang diharapkan mampu membersit ke dalam diri setiap orang yang berkenanmembacanya (Prolog Buku)Diri manusia terbentuk dari berbagai kehendak eksistensial, yakni kehendak untuk bebas, kehendak untuk berkuasa dan kehendak untuk sejahtera. Kehendak-kehendak itu berkaitan secara langsung dengan diri konkrit manusia. Tetapi masih ada juga kehendak yang berkaitan dengan sesuatu di luar diri manusia yakni, kehendak akanmakna. Filosof Victor Frankl, menyebutnya sebagai will to meaning. Manusia membutuhkan makna, karena makna akan memberi arti kepada hidupnya.Bersamaan dengan itu, makna merupakan sesuatu yang berada di luar diri manusia, oleh karenanya, manusia mengarahkan dirinya ke luar untuk menjangkau dan merengkuh makna. Makna yang diraih dan direngkuhnya, memungkinkan manusia memandang dan menjalankan hidup dengan penuh tanggung jawab.Buku ABUNDANT LIFE ini merupakan wujud konkrit dari kehendak akan makna tersebut. Buku ini merupakan suatu ajakan untuk due in altum (bertolaklah lebih ke dalam) dari hidup sehari-hari, supaya kita dapat memperoleh makna. Alexander Aur; Dosen Filsafat pada Fakultas Liberal Arts Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, Banten

Samudra Keteladanan Muhammad

Perbedaan Muhammad SAW dengan umatnya hanyalah "sedikit". Beiiau sedikit-sedikit beribadah, umatnya sedikit beribadah. Beiiau sedikit-sedikit membaca al-Quran, umatnya sedikit membaca al-Quran. Beiiau sedikit-sedikit menangis, umatnya sedikit menangis. Beiiau sedikit-sedikit bertanya tentang umatnya, umatnya sedikit bertanya tentangnya. Beiiau sedikit kenyang, umatnya sedikit-sedikit kenyang. Begitu seterusnya.Itulah "sedikit" jurang perbedaan menganga antara yang dicintai dan para pecintanya. Untuk mempersempit jurang perbedaan itu, umatnya perlu menyelami keteladanannya yang bagaikan samudra tak bertepi. Andai umatnya kuasa menyusuri bibir pantainya saja, niscaya mereka menjadi pribadi luhur penuh kasih sayang.Buku ini memotret begitu banyak keteladanan sang Nabi dalam kesehariannya. Mengupas kebiasaan beiiau kala menjahit baju robek, ketika di pasar, saat di perjalanan, keakraban dengan anak-anak, memuliakan tamu, dan banyak lagi kebiasaan beiiau sehari-hari lainnya, buku ini diharapkan dapat mengingatkan kembali mutiara keteladanan sosok mulia itu sebagai "teladan yang sesungguh-sungguhnya teladan".***"Di antara banyak buku yang mengulas sosok Muhammad SAW, buku ini hadir dengan tuturan yang mudah dicerna disertai referensi yang memadai. Membacanya akan menebalkan cinta padanya dan akan menghadirkan kesadaran baru tentang kepribadiannya yang benar-benar purna."Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Imam Besar Masjid Istiqial"Akhlak Rasulullah SAW adalah al-Quran. Itulah penggarnbaran singkat nan utuh oleh Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. tentang suaminya. Buku ini menampilkan sisi-sisi akhlak qurani yang menjadi mata air keteladanan sepanjang zaman. Buku ini perlu menjadi bahan telaah bagi kaum Muslim yang mencintainya dan berupaya mengamalkan sunnahnya."Prof. Dr. KH. Said Agil Husin al-Munawwar, M.A., Menteri Agama Kabinet Gotong Royong, Guru Besar Fiqh dan Ushul Fiqh UIN Syarif Hidayatullah"Buku ini memotret secara multidimensional kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad SAW. Menjadi sumber referensi utama untuk diteladani bagi pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Mudah dibaca dan perlu."Prof. Dr. KH. Sholeh Hidayat, M.Pd., Rektor Untirta Banten dan Ketua Tanfidziyah PWNU Banten

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?