Hikayat Para Dermawan : Hikmah dan Teladan dari Orang-Orang Saleh yang Gemar Memberi

Kita seringkali menganggap bahwa ketika kita memberi atau bersedekah,harta kita menjadi berkurang. Apalagi bila kita merasa bahwa kebutuhan kita juga tidak sedikt. Ditambah lagidalam situasi ekonomi suli, memberi sedikit saja rasanya sudah begitu berat. Akhirnya, kita pun enggan memberi.TaK hanya pada saat  kondisi sulit, dalam kondisi lapang atau banyak harta pun kita sering kali merasa berat untuk memberi.Buku ini menjungkirbalikkan anggapan di atas. Memberi justru akan menambah harta kita,bukan mengurangi. Ada lebih banyak manfaat dalam memberi.Manfaat itu tak hanya secara normatif disebutkan dalam al-quran dan hadis Rasulullah, tetapi terbukti nyata dalam kehidupan,berdasarkan pengalaman dari banyak orang dermamawan pada masa lalu. Bukti-bukti nyata itulah yang rangkum dalam buku ini melalui hikayat mereka yang menakjubkan dan inspiratif. Mereka, kaum dermawan itu, tak hanya dari kalangan berada,kaya, dan raja,tetapi juga dan kalangan biasa-biasa saj, bahkan miskin.Membaca hikayat mereka membuat kita terhenyak dan merasa iri. Bahkan dalam kondisi sulit pun mereka tak perah berat memberi, apalagi dalam kondisi lapang. Hikayat mereka yang begitu menawan itu dapat mengetuk hati kita untuk juga melakukan hal yang sama tanpamenuggu waktu atau pikir-pikir dulu."Buku yang ada di hadapan  anda ini adalah bintang yang penuh berkah, termasuk khazanah klasik Islam dan Arab, mengandung banyak faedah dalam hal kedermawanan, kebaikan, dan kemurahan.Sangat cocok menjadi teman duduk dan layak disampaikan di majelis-majelis taklim dan tempat-tempat belajar."Abu al-hasan Ahmad Farid al-Mazidi. dosen Fakultas ushuluddin,Universitas al-Azhar,Kairo.

Sosiologi Sebagai Akar Ilmu Komunikasi

Sosiologi sebagai Akar Ilmu Komunikasi merupakan buku keempat dari 8 (delapan) judul Seri Pohon Komunikasi, sekaligus sebagai salah satu landasan ilmiah komunikasi dari 8 (depakan) landasan yang akan disajikan (filsafat, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, antropologi, biologi, fisika, dan matematika).Ilmu komunikasi merupakan cabang yang berakar dari berbagai ilmu sosial, salah satunya adalah sosiologi. Sosiologi adalah ilmu tentang manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi antara satu sama lain dengan cara berkomunikasi Sosiologi sebagai akar ilmu komunikasi merupakan inti penjabaran dari hubungan sosiologi dan komunikasi karena dalam sosiologi, kajian komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh kehidupan manusia.Dalam sosiologi sebagai akar ilmu komunikasi, interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat merupakan perwujudan dari komunikasi yang bersifat konkret. Interaksi yang terjadi di antara manusia menimbulkan kontak sosial. Di sini, makna sangat penting ditafsirkan oleh individu yang mendapat informasi karena makna yang dikirim oleh komunikasi kepad akomunikan menjadi sangat subjektif. Ini ditentukan kontak sosial ketika informasi itu dikirim dan diterima.Buku ini merupakan buah pemikiran penulis selama bertahun-tahun memberi kuliah dalam bidang ilmu komunikasi di Universitas Padjajadran, khususnya mata kuliah Landasan Ilmiah Komunikasi untuk program S2 dan S3, yang barud dilaksanakan sejak beberapa tahun yang lalu. Ini menjadi suatu kesempatan yang sangat berharga bagi penulis untuk terus mengeksplorasi ilmu agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman. Semangat itu pula yang ingin penulis tularkan kepada pembaca, terutama mahasiswa ilmu komunikasi, dengan terus mengkaji ilmu secara holistik (tidak parsial) untuk menumbuhkan pola pikir yang filsafat dan agamais.TENTANG PENULISProf. Dr. Hj. Nina Winangsih Syam, MS adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Lulus sebagai Sarjana Publisistik Unpad tahun 1972, sedangkan Magister dan Doktor Bidang Komunikasi diselesaikannya pada tahun 1990 dan 1994 di Unpad. Buah pemikiran fenomenanya adalah Pohon Komunikasi yang disampaikan pada saat pengukuhannya sebagai guru besar (2001).Selain mengajar di Unpad, Prof. Nina juga mengajar di Program Pascasarjana di beberapa perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri, dalam mata kuliah Landasan ilmiah Komunikasi, Filsafat Komunikasi, Psikologi Komunikasi, dan Kapita Selekta Komunikasi. Kiprah dan minatnya dalam dunia penelitian meliputi studi tentang Public Relations, Wanita, Lingkungan, Pariwisata, Komunikasi Pemerintah, dan Komunikasi Pembangunan.

A Bridge of Birds - Perang Vietnam, Cinta, dan Jalinan Antar-generasi Prancis

Andr Garnier mendapat kabar dari seseorang bahwa ayahnya akan segera pulang ke rumahnya. Esok harinya, sebuah ambulans tiba, membawa sesosok pria tua penyakitan yang tak lain adalah ayahnya, Pierre Garnier. Tak lama tinggal di rumah putranya, Pierre akhirnya meninggal lantaran penyakit Alzheimer akut yang dideritanya. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Pierre melontarkan kalimat misterius kepada Andr: Ada yang ingin kukatakan.Penasaran atas kalimat terakhir ayahnya, Andrsetelah mendapat informasi dari teman ayahnyakemudian pergi ke Vietnam guna menyelidiki kehidupan sang ayah kala menjalani dinas militer sebagai tentara Prancis. Ia pun terlibat dalam suatu pencarian yang melelahkan. Dan, di ujung episode petualangan personal dan historisnya, Andre menemukan inspirasi bagi terbangunnya jembatan burung (ikatan) antara dirinya dan ayah kandungnya, antara masa lalu dan masa kini, antara Timur dan Barat.Karya berlatar perang Vietnam ini menyuguhkan narasi perihal naik-turun hubungan tiga generasi Prancis yang malu karena kalah perang. Namun, A Bridge of Birds tak sekadar hikayat perang. Ia juga bertutur ihwal kelemahan dan kekuatan abadi dari kata berjuluk cinta. Manusia dari pelbagai generasi akhirnya menyadari bahwa sukses dan gagal hidup tak pernah lepas dari pesona perempuan, juga guratan asa seorang anak.***Salah satu novel paling ambisius tahun inidoa untuk mimpi hebat Prancis.A Bridge of Birds terdengar seperti melodi paling menyayat hati.Le PointNovel A Bridge of Birds adalah hasil karya ambisius, hebat, dan halus, yang memperlihatkan suatu penulisan yang luar biasa elegan.Livres HebdoHikayat menarik ihwal Indochina, yang bercerita tentang seorang lelaki dan ayahnyayang keburu meninggal sebelum sempat bertutur perihal kisah militernya di Vietnam. Pengembaraan kolonial, yang mengingatkan pada Mans Fate karya Malraux.JasminPenulisnya, tak diragukan lagi, adalah salah satu ahli terhebat perang Indochina saat ini. Tapi lebih dari itu, ini juga novel istimewa perihal wanita, ibu, dan cinta, yang diam-diam membayangi kisah utamanya.Elle***Tentang Penulis:Antoine Audouard lahir pada 1956. Selama enam tahun ia menjabat sebagai direktur penerbitan pada Laffont-Fixot, Prancis. Setelah itu, ia lebih menekuni dunia tulis-menulis. Karyanya, Farewell My Only One, mendapat sambutan luas dan banyak pujian, menjadi referensi utama di Goncourt, dan telah diterjemahkan ke dalam empat belas (14) bahasa. Kini, pria paro baya ini tinggal dan bekerja di New York.

Gung Rai Sang Mumpuni

SENI dan RELIGI dalam HARMONIAgung Rai adalali figur langka yang telah menembus batas-batas sosial ekonomi dan mencapai taraf tertinggi. Selain karakter sebagai pekerja keras. tekun dan konsisten, dia juga tetap rendahi hati dan prduli terhadap pengembangan dan pelestarian budaya. I Gde Pitana (Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara kementerian Pariwisata)Konsistensi Agung Rai dalam melestarikan seni budaya leluhur, sangal mengagumkan. Kendati tak sempat mengecap pendidikan tinggi. dia benar-benar memahami arti penting pendidikan seni budaya. Gialerinya selalu terbuka bagi anak-anak yang tertarik belajar tari. musik dan seni lukis. Dia mengerahkan upaya agar anak-anak itu memiliki kesempatan tampil di berbagai ajang baik nasional maupun internasional. Yuli Mumpuni Widarso (Duta Besar Indonesia untuk Spanyol)Hanya segelintir orang yang bisa menyelaraskan kehidupan spiritual (agama), seni dan budaya dalam kesehariannya. Agung Rai lidak terlena oleh kemilau harta dan kesuksesan bisnis. Dia tidak menyombongkan diri di tengah publisitas seorang pegiat seni. Dia setia menjalani hidup sebagai umat Hindu yang taat dan bagian utuh masyarakat adat Bali yang hornat pada budaya. tradisi dan alam. Dia memang seorang mumpuni. I Gusti Agung Wesaka Puja Duta Besar Indonesia untuk Belanda)Agung Rai telah sukses menjadi seorang kurator seni yang terpandang; pengusaha sukses dan pemerhati sosial budaya yang terhormat. Uniknya, dia tetap menjalani hidupnya dengan sederhana dan bersahaja. Dia tidak merasa berada di kelas yang lebih tinggi dari orang kebanyakan, karena itu kita pantas menimba ilmu darinya. Elias Ginting (Duta Besar Indonesia untuk Finlandia 2011-2015)Setiap warga negara berkewajiban berperan aktif melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya. seni serta segenap daya tarik negeri ini ke seluruh dunia. Agung Rai telah memberi contoh yang baik dan semoga kisah hidupnya dalam buku ini mengispirasi sebanyak mungkin orang. Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa. M.SL (koordinator kopertis VII)Kegigihan, keija keras dan perjuangan yang tulus adalah modal utama meraih sukses dalam hidup dan Agung Rai telah membuktikannya. Berasal dari keluarga miskin dan tanpa gelar akademik yang memadai, kerja keras dan sifat pantang menyerah telah mengantarkannya menjadi salah satu sosok penting dalam dunia seni Bali dan Indonesia dengan kaliber internasional. Saya mengapresiasi penerbitan buku ini yang memunculkan tokoh seni Agung Rai sebagai inspirasi sukses perjuangan hidup. I Nyoman Tjager (Komisaiis lltama Bursa Efek Indonesia 2008-2014)

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?