Etika (Edisi Revisi)

BUKU INI TERSEDIA MULAI TANGGAL 27 OKTOBER 2011Sebagai refleksi atas moralitas perilaku manusia, etika mempunyai tradisi yang panjang. Di zaman kita sekarang, minat terhadap etika tidak berkurang, tapi justru bertambah besar, antara lain karena masalah-masalah moral baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Apakah kita boleh memanipulasi kehidupan manusia ("bayi tabung", eksperimen dengan embrio, rekayasa genetik, dan seterusnya)? Bagaimana tanggung jawab kita terhadap lingkungan hidup? Bukankah kita mempunyai kewajiban moral untuk mengubah pola perkembangan industri dan pola hidup perseorangan untuk dapat menyelamatkan lingkungan hidup? Apakah senjata nuklir masih dapat diterima sebagai sarana legitim untuk membela diri? Apakah energi nuklir tidak membawa risiko terlalu besar bagi masa depan manusia untuk dapat dipergunakan dengan tenang dan aman? Itulah contoh beberapa pertanyaan berat yang dihadapi etika sekarang ini.Dalam buku ini, Prof. Dr. K. Bertens mengajak pembaca untuk menjelajahi seluruh wilayah etika. Pertama dibahas tema-tema klasik seperti: hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, dan keutamaan. Lalu dibicarakan beberapa teori besar dari sejarah filsafat moral: hedonisme, eudemonisme, utilitarianisme, dan deontologi. Akhirnya, disajikan sekadar pengantar pada etika terapan, artinya, etika yang menyoroti bidang-bidang khusus seperti dunia kedokteran, praktik bisnis, lingkungan hidup, dan lain-lain.Sebuah buku aktual yang sejalan dengan apa yang pernah disebut "Revival of ethics", kebangkitan kembali etika yang menandai zaman kita.

Sony vs. Samsung : Strategi Perang Memperebutkan Supremasi Global

Sebuah perubahan monumental telah terjadi di industri elektronik: kapitalisasi pasar Sony jatuh di bawah kapitalisasi pasar Samsung. Mengapa kinerja Sony yang sebelumnya mendominasi industri elektronik global merosot begitu tajam sementara Samsung muncul entah dari mana? Di tahun 1995, Sony menjadi acuan banyak perusahaan Korea, termasuk Samsung Electronics. Akan tetapi, sepuluh tahun kemudian, peruntungan dua perusahaan ini berubah secara dramatis. Kinerja Sony memburuk, dan Chairman Idei serta sang Presiden Ando terpaksa mengundurkan diri pada tahun 2005. Sebaliknya, Jong-yong Yun, CEO, diberi tepuk tangan karena keberhasilannya menjadikan Samsung Electronics salah satu perusahaan yang paling menguntungkan dalam industri elektronik. Perbedaan kinerja antara Sony dan Samsung Electronics tidak berakar pada strategi-strategi mereka. Sebaliknya, proses-proses organisasional dan kepemimpinan para eksekutiflah yang mungkin menyebabkan perbedaan tersebut. Unit-unit usaha mandiri Sony segera menjadi silo-silo ketika kepemimpinan para pengurus puncak dipertanyakan. Politik internal di kalangan eksekutif memperparah stagnasi yang dialami. Di sisi lain, kecocokan antara strategi Samsung dalam menjawab komoditisasi dengan kecepatan dan organisasinya yang militeristik mungkin telah berperan besar menghasilkan kinerja yang mencorong. Sony vs. Samsung mengupas tantangan yang dihadapi Samsung (alih-alih kinerjanya yang menakjubkan) sambil mengevaluasi potensi Sony (alih-alih kesulitan yang kini dihadapinya). Kesimpulannya: perbedaan kinerja antara Sony dan Samsung bukan karena strategi semata, melainkan juga sangat ditentukan oleh proses organisasi dan kepemimpinan para pejabat kedua perusahaan.

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?