Islam Jalan Tengah: Menjauhi Sikap Berlebihan dalam Beragama

Para Mukmin sejati memandang Islam sebagai satu-satunya jalan yang lurus (al-shirth al-mustaqm). Isu utama mereka adalah bagaimana kaum Muslim melaksanakan Islam secara kffah (total). Hal ini bisa menimbulkan kesan bahwa dunia di mata mereka hanya berwajah biner: Islam/kafir, thght/Allah, haqq/bthil, jahiliyah/Islami, Dr Al-Islm/dr al-harb, dan seterusnya. Dengan pandangan-dunia semacam itu, bagi sebagian orang, sikap dan tindakan mereka dianggap terlalu simplistik, linier, keras, dan bahkan radikal.Di sisi yang berseberangan, terdapat sebagian Muslim yang longgar, atau bahkan abai, terhadap prinsip-prinsip Islam. Mereka sering menafsirkan ajaran Islam dalam rangka kepentingan-diri mereka sendiri. Mereka lebih dekat pada sekularisme dan ateisme ketimbang pada Islam, bahkan oleh sebagian orang, mereka dianggap telah keluar dari Islam.Yusuf Qardhawi, seorang ulama yang sangat disegani di dunia Muslim, mencoba memetakan pandangan-pandangan yang berkembang di Dunia Islam. Dengan keluasan ilmu, kejernihan argumentasi, dan kelapangan hati, dia menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang senantiasa menempuh jalan tengah (wasath), yang membawa rahmat bagi semesta alam (rahmah li al-lamn). Dengan pandangan-dunia itu, Islam menampilkan diri sebagai sebuah agama yang toleran, moderat, adil tanpa harus kehilangan prinsip-prinsip intrinsiknya. Di dalamnya tersirat pengakuan akan adanya berbagai pandangan, kemungkinan, alternatif, tafsiran tentang Islam yang satu itu.Tentang PenulisYusuf Qardhawi lahir di Saft Turab, Mesir, 1926, sekarang tinggal di Doha, Qatar, adalah tokoh-pemikir gerakan Islam Al-Ikhwan Al-Muslimun dan ulama intelektual yang sangat dihormati, baik di kalangan Muslim maupun non-Muslim. Selain dikenal sebagai penulis yang prolifik, dokter lulusan Universitas Al-Azhar ini merupakan figur pemikir yang fatwa-fatwanya diikuti oleh banyak kaum Muslim. Pemikirannya yang moderat dan relevan dengan kebutuhan modernitas masyarakat Islam selalu memberikan kontribusi yang berharga bagi Dunia Islam.

Karunia Bershalawat : Melepas Rindu pada Rasulullah, Meraih Sukses dan Berkah di Dunia, Menjemput Syafaat di Akhirat

Shalawat adalah cahaya penerang sanubari, kekuatan bagi hati, ketenangan bagi jiwa, kesejukan bagi mata, wangi kesturi bagi majelis pertemuan, kenikmatan bagi hidup, zakat bagi umur, keindahan bagi hari-hari dan penghilang kesedihan dan kesusahan. Shalawat bisa mendatangkan kebahagiaan, kelapangan dada, kesempurnaan nikmat, dan keagungan cahaya.Dr. A'id al-Qarni, penulis L Tahzan Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya (al-Ahzb: 56).* * *Ibnu al-Qayyim berpesan,  "Jika Allah dan para malaikat-Nya saja bershalawat kepada Nabi, kalian juga harus bershalawat kepadanya. Lebih-lebih kalian mesti memanjatkan shalawat dan salam kepadanya, karena kalian telah mendapatkan berkah risalah yang diembannya dan diberi kabar gembira oleh makhluk paling mulia di dunia dan akhirat ini."Kita bukan, malah dilarang, berdoa kepada Nabi Muhammad, tetapi bershalawat kepada beliau ibarat kunci pembuka kemurahan Allah. Doa itu berhenti antara langit dan bumi, tidak naik sedikit pun sehingga engkau bershalawat kepada Nabimu (HR Al-Tirmidz). Lebih dari itu, Nabi bersabda, "Orang yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali," (HR Muslim). Inilah rujukan induk bacaan shalawat dari masa ke masa. Syekh al-Nabhani menghimpun bacaan shalawat dari Nabi, sahabat, dan ulama klasik. Dilengkapi rahasia keagungan dan keuntungan bershalawat dalam kehidupan kita, buku ini tak saja indah tapi juga menggugah.

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?