Adabud Dunya Wad Din

Etika (akhlak, adab) adalah mahkota dan perhiasan paling berharga,juga tanda kehormatan, kemuliaan, dan martabat luhur orangberiman. Karena itu. Islam sangat menekankan pentingnya etikadalam kehidupan, tak hanya yang berkaitan dengan agamasepertiritual ibadah kepada Allahtetapi juga duniaseperti hubungan dengansesama dan alam semesta. Pendek kata, semua hal ada etikanya, danIslam telah menunjukkan dan mendorong agar ia diterapkan di mana pundan kapan pun.Melalui karya agungnya ini. Imam al-Mawardi menjelaskan persoalanetika dunia dan agama, tak hanya tentang hakikat dan ragamnya tetapijuga tentang praktiknya serta tujuan dari penerapannya. Selainmenyampaikan dalil dalil al-Quran dan hadis secara literal. ia jugamenjelaskannya secara filosofis, dengan bahasa sastra yang indah, sertadiperkuat oleh pandangan para ulama saleh nan wara'. cerita-cerita sarathikmah, dan syair-syair pembangun jiwa yang jarang kita temukan.Membaca buku ini, kita akan menemukan makna sejati dan keindahanetika Islam. Pada akhirnya, dengan penuh kesadaran dan ketulusan hati,kita akan terdorong untuk mempraktikkannya dengan antusias demimeraih kehidupan yang penuh berkah.Buku ini menjadi bukti nyata dan petunjuk pasti tentang pandangankeislaman al-Mawardi mencakup banyak hal. yang memungkinkan siapapun dapat mengambil faedah dari pemikirannya. Materi-materi dalambuku ini dibangun oleh pemikiran yang mendalam... memuatkeseimbangan yang sempurna antara kemaslahatan dunia dan agama.Uwais Wafa al Al-zanjani (w. 1327 H), pensyarah kitab Adabud Dunyawad Din

Kisah Istimewa Bung Karno

Pada suatu malam, ketika kami sedang sibuk belajar, tiba-tiba terdengar suara seperti orang yang berpidato. Ingin tahu suara apa itu, kami berlari-lari menuju ke tempat dari mana suara itu datang. Astagaaa... Sukarno dalam kamar gelapnya berdiri di atas meja sedang berpidato meniru seorang volkstribuun (pemimpin rakyat) dari zaman Yunani kuno yang menguraikan soal demokrasi dan kedaulatan rakyat.(Herman Kartowisastro)Apa keistimewaan Bung Karno hingga kini tetap melekat di hati rakyat? Apakah karena kebesaran namanya sebagai pembebas dari belenggu penjajahan? Ataukah karena sisi humanismenya sebagai tokoh yang dikultuskan sekaligus sisi kelemahannya sebagai manusia?Yang jelas, buku ini menyajikan kisah-kisah Bung Karno lain dari yang lain, yang belum banyak diketahui orang, sekaligus menggugah hati. Seperti halnya, Arip seorang sopir pertama Bung Karno yang dipanggilnya "sahabat". Riwu Ga yang mempertaruhkan nyawanya ditembak Kempetai saat berteriak-teriak sepanjang jalan memakai megafon untuk memberitahukan Indonesia telah merdeka.Kemudian ada diplomat Polandia, Andrzej Wawrzyniak, satu-satunya diplomat asing yang boleh berkomunikasi dengan Bung Karno saat ditahan rumah dan sakit-sakitan sampai wafatnya Juni 1970.Masih banyak kisah-kisah lainnya yang menarik, misalnya bekas tempat pengasingan Bung Karno; film dokumenter dan video rekaman Bung Karno yang terancam punah; niat membangun kembali replika rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56 untuk melestarikan sejarah. Juga mengenai "Pohon Pancasila" di Ende yang konon merupakan cikal bakal Bung Karno melahirkan konsep Pancasila

Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama

Persoalan wasathiyyah (moderasi) bukan sekadar urusan atau kepentingan orang per orang, melainkan juga urusan dan kepentingan setiap kelompok, masyarakat, dan negara. Lebih-lebih dewasa ini ketika aneka ide telah masuk ke rumah kita tanpa izin dan aneka kelompok--ekstrem atau lawannya--telah menampakkan wajahnya disertai dengan dalih-dalih agama yang penafsirannya sangat jauh dari hakikat Islam. Memang semua pihak mengakui pentingnya moderasi, tetapi apa makna, tujuan, dan bagaimana menerapkan serta mewujudkannya tidak jarang kabur bagi sementara kita.Moderasi atau wasathiyyah bukanlah sikap yang bersifat tidak jelas atau tidak tegas terhadap sesuatu bagaikan sikap netral yang pasif, bukan juga pertengahan matematis. Bukan juga sebagaimana dikesankan oleh kata "wasath", yakni pertengahan yang mengantar pada dugaan bahwa wasathiyyah tidak menganjurkan manusia berusaha mencapai puncak sesuatu yang baik dan positifseperti ibadah, ilmu, kekayaan, dan sebagainya.Akibat kekaburan makna wasathiyyah (moderasi) maka yang ekstrem maupunyang menggampangkan sama-sama menilai diri mereka telah menerapkan moderasi, padahal kedua sikap itu jauh dari pertengahan yang menjadi salah satu indikator moderasi.Wasathiyyah/moderasi sangat luas maknanya. Ia memerlukan pemahaman dan pengetahuan yang mendalam tentang syariat Islam dan kondisi objektif yang dihadapi sekaligus cara dan kadar menerapkannya.Melalui buku ini, Anda akan mendapatkan penjelasan wasathiyyah dari penulis yang kompeten dan otoritatif.

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?