Bullying : Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan

Dunia pendidikan Indonesia kembali terpukul dengan peristiwa tewasnya siswa SD yang ditikam oleh gurunya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada pertengahan Desember 2007 di Jawa Barat. Guru yang idealnya menjadi sahabat, pendamping murid, fasilitator, ternyata sangat mampu menjadi pelaku kekerasan bahkan membunuh muridnya sendiri. Guru itu telah melakukan bullying terhadap anak didiknya. Bullying menurut kamus Webster, bermakna penyiksaan atau pelecehan yang dilakukan tanpa motif tapi dengan sengaja atau dilakukan berulang-ulang terhadap orang yang lebih lemah. Motif yang menjadikan seseorang sebagai pelaku bullying sangat beragam. Namun dari keberagaman motif tersebut, inti utama terjadinya bullying karena adanya ketidakseimbangan dalam relasi kuasa. Pernyataan ini ditemukan oleh seorang ahli masalah bullying dari Jaringan Antibullying, Skotlandia, Andrew Mellor. Buku ini mengupas tuntas tentang latar belakang terjadinya bullying, ciri-ciri pelaku, ciri-ciri para korban, skema sistem antibullying, program kegiatan antibullying yang dapat dilakukan di sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. Buku ini tercipta berdasarkan riset, yang secara faktual bullying terjadi akibat faktor lingkungan, keluarga, sekolah, media, budaya, peer group, bahkan pengaruh situasi politik dan ekonomi yang koruptif. Orang-orang pemerintahan, kepala sekolah, guru, orangtua, peserta didik ternyata mampu menjadi pelaku bullying verbal dan atau non-verbal

Mendidik Anak Di Era Digital

Tahukah Anda?    Orang-orang genius di Silicon Valley menjauhkan komputer dari keseharian anak-anak mereka.    Prancis melarang penggunaan ponsel di sekolah.    Jerman dan Finlandia mengawasi penggunaan ponsel pada anak-anak dengan ketat.    Korea, yang dikenal memiliki perkembangan teknogi digital terpesat di dunia mulai mengkhawatirkan dampaknya terhadap anak-anak, generasi penerus masa depan.Perangkat digital yang canggih saat ini tak dapat dielakkan telah mempermudah hidup kita. Termasuk di antaranya dalam mengasuh anak. Bentuknya yang atraktif menarik perhatian anak-anak dan menjadi media belajar yang menyenangkan. Anak-anak relatif lebih mudah ditenangkan dan lebih pintar dengan kehadirannya.Namun faktanya, di balik kehebatannya, teknologi digital membawa pengaruh yang mengkhawatirkan bagi masa depan anak-anak. Fitur-fitur yang ditawarkan teknologi digital tanpa sadar telah mengganggu pertumbuhan fisik dan mental mereka. Anak-anak yang terpapar perangkat digital sejak dini dapat mengalami perkembangan otak dan emosi yang tidak sempurna. Akibatnya, mereka memiliki memori jangka panjang yang buruk, emosi tidak stabil, sulit berkonsentrasi, dan bahkan, tidak mampu berpikir.Sebelum kerusakan permanen tersebut terlanjur terjadi, Anda bisa mencegahnya. Buku ini akan memberikan panduannya. Tujuh prinsip dasar dipaparkan dalam buku ini untuk menjadi orangtua yang cerdas di era digital, yaitu mampu melindungi anak-anak dari ancaman digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang bisa ditawarkannya.Yee-Jin Shin adalah psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea Selatan. Setelah lebih dari 20 tahun menangani kasus anak-anak, dia menyadari ada hal-hal yang telah menyakiti jiwa mereka, salah satunya teknologi digital, yang berpotensi menjadi masalah sosial di kemudian hari. Ketika menjadi politikus dan anggota legislatif, ia mengajukan pembuatan undang-undang tentang perlindungan anak dari adiksi terhadap alkohol, game internet, media digital, perjudian, dan narkoba.Wajib dibaca saya dan istri serta para orangtua dan guru yang ingin menyelamatkan generasi penerus bangsa dari ancaman bahaya era digital.- Ayah Edy, Praktisi Parenting, Founder Indonesian Strong from Home, Penulis Buku Best Seller Ayah Edy Menjawab

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?