Agar Hati Selembut Salju ( Kitab Ar-Riqqah)

Hati ibarat cermin, dan kebenaran adalah cahaya. Hanya hati yang beninglah yang akan mampu memantulkan cahaya. Dan, hanya hati lembutlah yang akan mampu menyerap kebenaran dan membagikan keindahannya, bukan hanya pada ia sendiri, namun juga kepada insan di sekitarnya. Ketahuilah, bahwa hati adalah panglima dalam diri kita. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Akan tetapi, kehidupan yang penuh gelimangan maksiat telah membuat hati kesat. Hati pun keras laksana batu. Pada saat itulah, kebenaran yang berlalulalang hanya tertangkap sebagai desauan angin. Sementara kemaksiatan terasa begitu biasa, begitu wajar, dan kita lakukan tanpa sadar. Allah berfirman, "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS. al-Baqarah: 74). Kekerasan hati inilah yang akan menghalangi kita dari petunjuk. Akan memalingkan kita dari cahaya Ilahi. Akan membutakan mata batin. Jalan kebenaran yang terang benderang akan tertutup dari pandangan. Maka para manusia pun terjebak dalam lumpur kehinaan dan terjerumus dalam jurang kenistaan. Buku di tangan Anda ini merupakan kumpulan dari kisah-kisah para nabi, para sahabat, serta orang-orang terdahulu nan salih, yang akan membuat kita mengucurkan air mata, sehingga hati kita yang mengeras akan sedikit demi sedikit melembut. Kisah yang digoreskan oleh mata pena seorang ulama mujahid, guru besar umat muslimin, Syaikhul Islam Ibnu Qudamah. Wahai manusia, menangislah karena takut pada siksaan Allah. Menangislah karena keharuan akan betapa luas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Menangislah melihat nasib saudara kita yang bergelimang nestapa. Menangislah karena Allah. Menangislah, menangislah, menangislah...! Dan jika kita tak mampu menangis, maka menangislah. Menangis karena hati kita telah begitu keras, telah membatu, telah kehilangan keindahan fitrahnya.

Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa

Henry Guntur Tarigan dilahirkan tanggal 23 September 1933 di Linggajulu, Kabanjahe, Tanah Karo, Sumatra Utara. Ayahnya bernama Rulo Tarigan dan ibunya bernama Kawali beru Surbakti. Henry Guntur Tarigan menikah dengan M. Intan Sisdewatu Purba tanggal 14 Agustus 1957 di Berastagi, Sumatra Utara.Menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung tahun 1960; Sarjana Pendidikan pada FKIP Universitas Padjajdjaran Bandung tahun 1962; mengikuti Studi Pasca Sarjana Linguistik di Universitas Leiden, Nederland tahun 1971 -1973; meraih gelar Doktor dalam bidang Linguistik pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta tahun 1975 dengan disertasi yang berjudul Morfologi Bahasa Simalungun.Pernah menjadi pengajar tetap pada FPBS-IKIP Bandung, pada Fakultas Pasca Sarjana IKIP Bandung, dosen luar biasa dalam mata kuliah "Kemahiran Berbahasa Indonesia" pada Fakultas Sastra Universitas Leiden dan pada Hendrik Kraemer Institut Oegstgeest, Belanda (1972-1973); dosen luar biasa STIA-LAN-RI Bandung (1980-1983); dosen terbang/luar biasa pada Universitas Palangkaraya. Kalimantan Tengah; dosen luar biasa pada Universitas Katolik Parahyangan; Guru Besar pada FPBS IKIP Bandung.Beliau sering mengikuti berbagai seminar dan lokakarya di dalam maupun di luar negeri dalam bidang kebahasaan antara lain di Hull (Inggris, 1972), Hasselt (Belgia, 1972), Paris (Perancis, 1973), Leiden (Belanda, 1973), Hamburg (Jerman Barat, 1981), Chicago (Amerika Serikat, 1987), Columbus, Ohio (Amerika Serikat, 1987), Tallahassee (Florida, USA, 1987).

100 Tokoh Intelijen Dunia (Edisi Revisi)

Selain wartawan, dunia ini ada juga profesi yang tugasnya menggali informasi, yaitu intelijen atau dinas rahasia. Bedanya dengan wartawan, informasi yang didapat oleh intelijen tidak dipublikasikan begitu saja di media massa. Informasi yang didapatkan oleh intelijen biasanya digunakan sebagai alat pertahanan sebuah negara dan cenderung dirahasiakan.Karena intelijen ini mengemban tugas rahasia, maka tidak sembarang orang yang bisa berprofesi sebagai intelijen. Untuk menjadi seorang intelijen dibutuhkan syarat-syarat khusus, yaitu loyalitas, kecerdasan, keuletan, pengalaman, dan keberanian. Mengingat tidak jarang seorang intelijen harus rela mati ketika menjalankan tugasnya.Karya Hanu Lingga yang berjudul 100 Tokoh Intelijen Dunia ini mengulas secara komprehensif pengalaman-pengalaman seratus orang intelijen besar yang bekerja di masing-masing lembaga intelijen negaranya. Terdapat sembilan lembaga intelijen yang saat ini ada di dunia, yaitu CIA milik Amerika Serikat (AS), KGB milik Uni Soviet, FSB milik Rusia, M16 milik Britania Raya, Mossad milik Israel, BIN milik Indonesia, Stasi milik Jerman Timur, Asio milik Australia, dan DIE milik Rumania.Secara garis besar, intelijen mengemban tugas untuk menggali informasi yang berguna dan yang membahayakan negaranya masing-masing. Tugas intelijen seringkali berkaitan erat dengan gejolak politik yang sedang terjadi. Pada masa perang dunia II dan perang dingin antara USA dan Uni Soviet misalnya, agen-agen intelijen pun ditugaskan menggali informasi untuk menjadikan masing-masing sebagai negara terkuat.Persaingan sengit antara USA (kapitalisme) dan Uni Soviet (komunisme) kala itu telah melahirkan tokoh-tokoh intelijen besar dunia. Di kubu CIA (USA) melahirkan sosok Lucien Conein. Semasa perang dingin Lucien bertugas untuk menggali informasi-informasi yang fundamental terkait Uni Soviet. Sementara di kubu KGB (Uni Soviet) melahirkan sosok Vladinir Putin. Sejak tahun 1975 putin bergabung dengan KGB dan bertugas menjadi agen Uni Soviet di Jerman.Prestasi Putin sangat gemilang, dapat dibilang berkat jasanyalah rezim Nazi di Jerman jatuh. Selain di badan intelijen, alumnus universitas negeri di St Petersburg ini juga tercatat sebagai presiden di negaranya 1999-2008.Berbicara mengenai badan intelijen besar dunia, nama Indonesia tidak boleh ditiggalkan. Melalui BIN, Indonesia juga sukses menelorkan agan-agen yang tidak kalah hebat. Sebut saja Ali Moertopo. Laki-laki asal Blora ini memiliki prestasi yang cukup gemilang untuk Indonesia. Berkat kegigihannya menggali informasi, dia berhasil menumbangkan pemberontakan yang digagas oleh Darul Islam. Moertopo juga menjadi dalang di balik lahirnya keputusan Soeharto untuk memfusikan partai politik menjadi tiga: Golkar, PPP, dan PDI. Selain Murtopo, Indonesia juga melahirkan Letnal Kolonel Purnawirawan Djuanda Wijaya sebagai intelijen terbaiknya. Dikatakan bahwa bergulingnya Deklarasi Ciganjur pada November 1998 adalah tidak lepas dari kerja kerasnya. Selain yang tersebut di atas, ada begitu banyak tokoh intelijen lain dipaparkan buku ini.Terlepas dari kekurangannya, melewatkan kehadiran buku ini betu saja adalah hal patut untuk disayangkan. Setidaknya malalui buku ini kita bisa sejenak mencermati tokoh intelijen dengan sekelumit aksinya, baik dari Indonesia maupun negeri manca negara.

BIOGRAFI MUAWIYAH BIN ABI SUFYAN

Muawiyah bin Abi Sufyan memegang tampuk khalifah ketika suhu politik kaum Muslimin sedang mendidih. Terjadi friksi dan perbedaan pendapat di antara beberapa shahabat dalam pengungkapan pembunuhan Khalifah Utman bin Affan Berbagai perselisihan, ditambah musuh dalam selimut yang menyusup untuk mengobarkan permusuhan... hingga titik didih itu pun meledak, menjelma menjadi peranngfisiksesama kaum Muslimin.Rangkaian peristiwa pahit itu dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk mulai menggerogoti Islam dari dalam. Muncullah Syiah yang hingga hari ini mencaci habis-habisan Muawiyah fet dan keturunannyasambil membawa kampanye pengkultusan kepada Alib bin Abi Thalib. Padahal, dictum Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengenal pembedaan antara para shahabat dan bersikapdiam terhadapsengketa yang terjadi di antara mereka.Buku ini memotret Muawiyah apa adanya. Mengungkapkan bukti-bukti kecerdasannya dalam memerintahpembaruan dalam beberapa layanan masyarkat, eskpandi dakwah dan liannya, namun juga mengkritisi beberapa kekeliruan langkah yang diambilnya. Tentu, semua itu tidak keluar dari koridor Ahlussunnah wal Jamaah dalam bersikap terhadap shahabat sebagaimana diterangkan di atas. Tak lupa, Penulis juga memuat beberapa argumen lucu musuh-musuh Islam yang mencoba memancing di air keruh persengketaan.Ringkasnya, buku ini akan membawa kita menguak siapa sebenarnya shahabat besar bernama Muawiyah bin Abu Sufyan ini. Di tengah-tengah deraan doktrin Syiah yang mencelanya tanpa ampundi mana doktrin itu menjamur di tengah masyarakat. Muawiyah apa adanya sebagai sosok manusia biasa, yang kadang hebat, namun juga kadang khilaf. Tanpa embel-embel pencelaan dan penistaan terhadap dirinya sebagai salah satu shahabat Nabi

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?