Pernikahan Generasi Millennial: Seni Pacaran Setelah Menikah

Buku ini memberikan sajian yang berbeda, membahas mengenai panduan pra dan pasca pernikahan di era millennial. Buku ini lahir sebagai buku tutorial pernikahan generasi millennial (generasi Y dan Z) dalam menghadapi segala permasalahan dan mampu bertahan dalam keadaan apa pun. Saya percaya bahwa pernikahan millennial ini bisa menjadi pernikahan terbaik dan panutan bagi generasi Z dan generasi berikutnya. Generasi millennial diharapkan menjadi generasi terbaik yang pernah ada di Indonesia, menurut Bappenas di tahun 2015 jumlah millennial ada 84 juta orang dari 255 juta penduduk (33%). Jika dilihat dari perbandingan usia produktif yang ditetapkan pemerintah antara 16-64 tahun maka sebanyak 50% dari adalah millennial. Karakter generasi millennial akrab dengan teknologi sehingga disebut pula generasi Net, akrab dengan gadget dan aplikasi, menjadi penguasa informasi, berpendidikan tinggi, mementingkan passion, mencari tantangan tapi menginginkan pekerjaan yang santai, kreatif dan inovatif tidak ragu menciptakan start-up business yang sesuai passion-nya.Buku ini bercerita mengenai pernikahan generasi millennial di Indonesia, mereka adalah generasi Y dan Z. Generasi Y adalah generasi yang lahir tahun 1980 hingga 2000 (saat ini di tahun 2017 berumur 17 sampai 37 tahun). Generasi Z adalah generasi yang lahir tahun 1995-2010 (saat ini berumur 7 sampai 22 tahun). Beberapa dari generasi Z adalah generasi yang merupakan keturunan dari pernikahan antara generasi Y dan sesamanya, atau generasi yang lahir dari pernikahan antara generasi Y dan generasi X yang lahir tahun 1965-1980 (saat ini di tahun 2017 berumur antara 37 sampai 52 tahun). Setelah itu lahirlah generasi Alpha, generasi yang lahir dari tahun 2010 sampai sekarang. Generasi millennial bisa dibilang sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, mereka tidak mudah untuk dipahami. Kelahiran keluarga millennial (the rise of millennial family) memunculkan beberapa masalah dalam pernikahan yang berdampak pada meningkatnya tingkat perceraian yang akan berdampak jangka panjang pada generasi Z sebagai keturunan dari pernikahan. Karakter-karakter tersebut bisa menjadi bumerang bagi pasangan millennial jika tidak mampu meng-upgrade skill, knowledge, dan menjaga keseimbangan antar sesama pasangan millennial atau yang berbeda generasi. Jika mereka mau belajar bagaimana mengatur konflik pernikahan menjadi sebuah tantangan, mencari solusi dari berbagai sumber terutama dari generasi sebelumnya mempertahankan pernikahannya dalam keadaan apapun.

Aishiteimasu

"Aku itu hanya tanya, di mana cincinmu? Aku ini istrimu, wajar dong ingin tahu keberadaan cincin pernikahan kita. Siapa tahu cincinmu terjatuh, aku bisa bantu cari. Apa salahku? Hanya menyebut "cincin", kenapa kamu begitu gelisah dan malu? Baiklah, aku ulangi lagi ya, aku tanya tentang cincin, ya cincin," ungkapku dengan setengah berteriak.Akihiro dengan sigap segera membekap mulutku lagi. Huh, benar-benar hari yang tak menyenangkan, dua kali suami membekap mulutku. Tak sopan sekali suami Jepang ini!Gara-gara perbedaan arti kata, Akihiro dan Hani kerap kali ribut. "Cincin" ternyata bermakna lain jika diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Celakanya, arti katanya cukup membuat hati orang Jepang risi. Tak hanya sekali pasangan suami-istri beda bangsa itu, Hani dari Indonesia dengan logat Jawa yang kental, sementara Akihiro berdarah Jepang tulen, bersitegang. Masih banyak, riak-riak yang meningkahi kehidupan mereka. Kebanyakan, sumber kesalahpahaman itu berpangkal dari perbedaan budaya. Hani dan Akihiro sadar, mereka dipertemukan dalam latar belakang yang warna-warni. Namun, semua itu disatukan oleh cinta. Cinta itu pulalah yang menyejukkan suhu rumah tangga mereka. Belum genap satu tahun menikah, Hani dibuat tercengang melihat apa yang ia lihat dan alami saat pertama kali menjejakkan kaki di Jepang.Kisah romantis nan lucu menggelitik acap kali menyelimuti perjalanan pernikahan mereka sebagai pengantin baru. Terlebih lagi, Hani belum fasih berbahasa Jepang. Bisa dibayangkan, bagi Hani, empat musim dalam satu tahun serasa seperti penonton yang menyaksikan banyak adegan film berbahasa asing yang sulit dipahaminya. Ia pun hanya bisa bertanya-tanya meski tak jarang merespons ketidaktahuannya secara gagap dan berlebihan.

Refi- AI Agent
Halo Kak! Ada yang bisa saya bantu?