Sulaiman Al-Qanuni

SinopsisSulaiman al-Qanuni adalah kisah pemimpin terbesar Turki Utsmani. Di Barat ia dijuluki Magnificent, gelar yang berkorelasi dengan kehidupannya yang luar biasa. Dia mulai berkuasa pada usia 25 tahun pada tahun 1520. Sebelum kematiannya, pada tahun 1566, dia telah mengubah struktur kekuasaan dan geografi Eropa Timur, dan menjadikan Turki sebagai kekuatan angkatan laut yang dominan di Mediterania. Pemerintahan Sulaiman menandai gelombang pasang kekuatan Turki di Asia Kecil dan Eropa. Penaklukan yang dipimpinnya membuat Turki ditakuti dan dihormati hingga ke Barat, bahkan sampai ke Paris dan London.Harold Lamb, penulis buku ini, melakukan penelitian detail dan mendalam guna membuka tabir kehidupan Sulaiman sebagai sultan dan kondisi dunia Euro-Asia tempat dia berkuasa. Buku ini menyajikan peristiwa besar di mana Sulaiman menggerakkan dan membentuk sejarah.Selain kehidupan politik, penulis juga memperlihatkan adegan tegang, romantis dan dramatis kehidupan pribadi dan rumah tangga sang Sultan. Bagaimana Sulaiman mengendalikan ambisi dan kecemburuan di istananya, terutama di harem. Ini adalah sejarah penaklukan dan demonstrasi kekuatan yang luar biasa, serta drama petualangan yang penuh romansa. ***Bacaan yang sangat bagus, interaksi antara kehidupan pribadi dan politik Sulaiman sangat memukau.AmazonPandangan mendalam tentang karakter dan persona penguasa Utsmaniyah yang agung, Sultan Sulaiman. Buku ini mencoba mengidentifikasi dan merujuk silang peristiwa bersejarah dan peristiwa di baliknya.Goodreads PENULISHarold Lamb, nama lengkapnya Harold Albert Lamb, adalah seorang sejarawan, penulis skenario, penulis cerita pendek, dan novelis.Ia kuliah di Columbia University, di mana minatnya pada masyarakat dan sejarah Asia dimulai. Lamb membangun karier menulisnya sejak dini. Dia memulai kariernya dengan menulis di majalah terbatas, dengan cepat ia berpindah ke majalah Adventure yang bergengsi, yang menjadi saluran utama dalam penerbitan karya fiksinya selama 19 tahun.Pada 1927, ia menulis biografi Jenghis Khan, dan ia mulai lebih dikenal sebagai penulis non-fiksi. Ia menulis banyak biografi dan buku-buku sejarah populer sampai kematiannya pada tahun 1962.Karya-karyanya antara lain: Genghis Khan, Tamerlane, Cyrus the Great, Nur Mahal, Omar Khayyam, Alexander of Macedon, The March of the Barbarians: The Mongol Dominion to the Death of Kubilai Khan, The Crusades: Iron Men and Saints, The Crusades: The Flame of Islam, The March of Muscovy, The City and the Tsar, dan Suleiman the Magnificent (yang oleh Penerbit Alvabet diterjemahkan dengan judul Sulaiman al-Qanuni).

21 Wanita Perkasa yang ditempa oleh Budaya Aceh

Wanita sering dipandang sebelah mala, lemah, dan hanya pantas mengerjakan urusan domestik Padahal, dalam banyak hal, wanita bisa lebih kuat daripada laki-laki. Rupanya, sistem budayalah yang membuat kaum wanita dipandang lemah atau kuat. Dalam sejarah, budava Aceh telah melahirkan para wanita tangguh yang memiliki keberanian melebihi kaum Adam Bahkan, kepiawaan mereka dalam memimpin tak kalah dari para sultan pada zamannya.Buku ini menceritakan sosok 21 wanita tanggun yang diperkasakan oleh budaya, agama, adat dan resom Aceh. Ada wanita yang mahir mengurus kerajaan bahkan memperluas perdagangan negerinya ke luar negeri. Ada juga wanita sangat pemberani, yang memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda hingga sampai titik darah penghabisan. Menariknya, di antara mereka banyak yang profilnya belum diketahui secara meluas dalam sejarah, meskipun peran mereka begitu penting.Buku ini disusun tak hanya bersumber dari literatur,namun lebih banyak berdasarkan wawancara, visitasi, dan observasi. Di sela-sela kegiatannya sebagai pedagang  dan konsultan di dalam dan luar negeri, penulis menyempatkan diri untuk mengumpulkan cerita-cerita tentang para wanita tangguh tersebut. Lebih dari 200 narasumber telah penulis wawancarai untuk memperoleh informasi dan data yang telah ia kumpulkan mulai tahun 1964. Dan, buku ini adalah hasil kegigihan penulis selama lebih dari 50 tahun untuk mengabadikan nama mereka, wanita-wanita tangguh yang dapat menjadi Inspirasi bagi para perempuan Indonesia.

Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia [Reguler]

Sutopo Purwo Nugroho atau biasa dipanggil Pak Topo adalah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)Pak Topo bekerja di BNPB sejak Agustus 2010, Awalnya beliau dilantik sebagai direktur Pengurangan Risiko Bencana. Namun per November 2010 Beliau dipindahkan untuk mengisi jabatan BNPB yang kosong. Tentunya bukan tanpa alasan mengangkat Pak Topo, Beliau sudah cukup akrab di kalangan media dan telah menjelaskan fenomena-fenomena bencana.Penjelasanmu menenangkan, Top, kata Syamsul.Banyak yang lapor ke saya. Bahkan saudaraku muji kamu.Dilansir dari Republika.co.id, Pak Topo punya pengalaman berkesan di BNPB salah satunya adalah ketika masih baru pindah dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ke BNPB. Beliau tersadar bahwa ternyata Penanganan Bencana berbeda sekali dan lebih luas dan menangani manusia ternyata tidak mudah. Bahkan Beliau tidak menemukan pengalaman-pengalaman penanganan bencana di buku bacaan yang Beliau pelajari.Sutopo Purwo Nugroho menjadi wajah penanggulangan bencana di Indonesia, yang dengan gigih menyampaikan informasi terbaru tentang bencana juga menangkal hoaks.Jabatan adalah amanah.Semakin tinggi jabatan,semakin besar tanggung-jawabnya.Sutopo Purwo Nugoho tidak mau hanya jadi penikmat jabatan.Di dalam Buku Sutopo Purwo Nugroho terdapat puluhan foto berwarna tentang Pak Topo. Dari Foto masa Beliau kecil, wisuda dari Universitas Gajah Mada, menikah, wisuda program doctor hingga foto bertanda-tangan Pak Jokowi (Presiden ke-7 Republik Indonesia).Preorder Eksklusif Buku Biografi Sutopo Purwo Nugroho bertanda-tangan penulis telah usai.Saat ini yang tersedia adalah edisi Reguler. Lihat postingan ini di Instagram Pak Topo pernah mengirimkan pesan ini: Apakah ada penerbit yang berminat menulis kisah hidup saya? Sejak lahir dalam kondisi miskin lalu tumbuh besar hingga sekarang terus berjuang dengan sakit kanker. Mungkin kisah hidup saya dapat menginspirasi masyarakat, khususnya para penyintas kanker di Indonesia. Tapi saya tidak punya biaya untuk menulis dan memproduksi buku tersebut. Belum ada naskahnya sama sekali. Jika ada yang berminat tolong hubungi saya. Mungkin menarik kisah perjalanan hidup saya. Namun jika tidak ada, juga tidak apa-apa. Terima kasih. Sutopo Purwo Nugroho Ketika saya menghubungi pak Topo untuk mengonfirmasi pesan itu, dia langsung bersemangat. Mbak Nana, ternyata ada beberapa orang yang mau menuliskan dan menerbitkan, tapi saya mau pilih sama mbak Nana saja ya. Terharu rasanya. Saya kemudian mengajak sahabat saya @fentyeffendy21 penulis sekaligus host #bukabuku @narasitv dan penerbit @LenteraHatiBook untuk bertemu Pak Topo di @narasi tv. Dan mulailah proses penulisan itu. Saya sedang di Melbourne ketika mendengar kabar berpulangnya Pak Topo. Kaget. Dan langsung teringat berbagai momen dengan Pak Topo. Terutama ketika saya mengundangnya ke Mata Najwa beberapa waktu lalu bersama kedua orang tuanya. Mbak Nana, saya terima kasih sekali Bapak Ibu saya bisa tampil di Mata Najwa Boyolali. Tampil di panggung di depan 7.000 warga Boyolali dan akan dilihat jutaan penonton Trans7. Ini tidak pernah terbayangkan seumur hidup orang tua saya. Bisa mendidik, mengasuh dan membesarkan anaknya menjadi seperti sekarang adalah nikmat yang luar biasa. Rasanya sakit saya hilang dan sehat segar bugar. Saya tercekat membaca pesan itu. Dan kini bertambah haru ketika melihat Pak Topo bahkan masih mengunakan foto saat tampil di Mata Najwa di aplikasi pesan pribadinya. Semoga buku biografi Pak Topo bisa segera terbit dan inspirasinya bisa terus jadi pembelajaran bagi banyak orang seperti niatan Pak Topo sejak awal. #catatannajwa #sutopopurwonugroho Sebuah kiriman dibagikan oleh Najwa Shihab (@najwashihab) pada 8 Jul 2019 jam 6:47 PDT SINOPSIS:Pak Topo pernah mengirimkan pesan ini:Apakah ada penerbit yang berminat menulis kisah hidup saya? Sejak lahir dalam kondisi miskin lalu tumbuh besar hingga sekarang terus berjuang dengan sakit kanker. Mungkin kisah hidup saya dapat menginspirasi masyarakat, khususnya para penyintas kanker di Indonesia. Tapi saya tidak punya biaya untuk menulis dan memproduksi buku tersebut. Belum ada naskahnya sama sekali. Jika ada yang berminat tolong hubungi saya. Mungkin menarik kisah perjalanan hidup saya. Namun jika tidak ada, juga tidak apa-apa. Terima kasih. Sutopo Purwo Nugroho.Ketika saya menghubungi pak Topo untuk mengonfirmasi pesan itu, dia langsung bersemangat. Mbak Nana, ternyata ada beberapa orang yang mau menuliskan dan menerbitkan, tapi saya mau pilih sama mbak Nana saja ya.Terharu rasanya. Saya kemudian mengajak sahabat saya Fenty Effendy, penulis sekaligus host Buka Buku @narasitv dan penerbit @LenteraHati untuk bertemu Pak Topo di @narasi tv. Dan mulailah proses penulisan itu.Semoga kisah hidup Pak Topo bisa menginspirasi dan bisa terus jadi pembelajaran bagi banyak orang seperti niatan Pak Topo sejak awal.Najwa ShihabFounder Narasi TV,Duta Baca Indonesia 2016-2020TRIVIA:Pak Sutopo mengidolakan raisa dan uniknya Pak Topo tidak sungkan untuk memention Penyanyi Terjebak Nostalgia tersebut saat menyebarkan informasi Bencana. Saat ditanyai, kenapa sering mention raisa Pak Topo menjawabnya biar Followernya banyak dan Mereka tahu soal bencana. Dan pada akhirnya Pak Sutopo bertemu dengan RaisaREFERENSI:Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB: Kesiapsiagaan Masyarakat terhadap Bencana Masih Rendah (Republika.co.id, diakses oleh Team Bukukita 19 Agustus 2019)Ungkap Awal Mula & Alasan Mention Raisa, Sutopo Sebut Malah Enggan Bertemu Karena Takut Patah Hati (Bali.Tribunnews.com diakses oleh Team Bukukita 19 Agustus 2019)Sutopo Akhirnya Bertemu Raisa di kumparan | #raisameetsutopo (Youtube Kumparan diakses oleh Team Bukukita di 19 Agustus 2019)